Keberangkatan ke Amerika tahun ini, bisa jadi yang memiliki persiapan paling rempong selama ini. Gara-gara apalagi kalau bukan pandemi. Tahun lalu, Amerika nyaris ditutup total, kalaupun bisa masuk, syaratnya ribet termasuk harus karantina yang bayar sendiri. Setahun setelah pandemi hadir, semua sudah lebih ringan. Tidak ada lagi karantina dan macam-macam test setelah ketibaan.

Walaupun Amerika-nya sendiri hampir tidak mensyaratkan apa-apa untuk masuk ke negaranya, tetapi maskapai yang saya tumpangi (Qatar Airways) mewajibkan seluruh penumpang menunjukkan hasil PCR negatif yang tes-nya dilakukan maksimal 72 jam sebelum keberangkatan.

Nah, karena aktivitas yang makin padat menjelang keberangkatan, saya tidak mau mengambil risiko. Banyak kejadian para OTG, yang tau-tau aja positif. Jadi, untuk antisipasi saya melakukan tes antigen seminggu sekali. Yah, incase kalo ada apa-apa, saya masih bisa recovery sebelum berangkat. Tepat satu minggu sebelum keberangkatan, salah satu staf di kantor dinyatakan positif. Duh, mau nggak mau saya harus PCR karena memang sehari sebelumnya melakukan kontak langsung, Masa 1×24 jam menunggu hasil PCR ternyata sangat mendebarkan. Alhamdulillah hasilnya negatif. Nah, menjelang keberangkatan,  saya tetap harus tes lagi, karena PCR pertama sudah lewat masa berlakunya. Thank God, semua lancar dan saya pun bisa berangkat tanpa kendala.

Fakta, di Indonesia saya tidak masuk golongan mana pun yang harus diprioritaskan, baik dari sisi usia maupun profesi. Menunggu giliran pun, nggak jelas deh giliran saya (kita) kapan. Ya sudah, saya bertekad mencari informasi agar bisa divaksin di Amerika, negara produsen vaksin covid 19 terbesar di dunia.

Keluarga saya disini, satu rumah seluruhnya sudah selesai vaksin sejak April 2021. Vaksin disini pun relatif lebih mudah, dan sangat cepat. Bukan mau membandingkan dengan negara kita, tapi saat tulisan ini dibuat sudah lebih dari 40% penduduk Amerika Serikat yang divaksin, sementara di kita, belum juga sampai 4%. Ya sudah, sekali lagi bukan buat perbandingan ya! Tapi untuk menegaskan, kalau menunggu vaksin di Indonesia, kayaknya saya baru bisa dapat giliran tahun depan.

Setelah googling, memang syarat-syarat vaksin diutamakan bagi mereka yang memiliki social security number atau orang-orang yang memang menetap disini seperti pekerja dan mahasiswa. Di Amerika, jika sudah terdaftar sebagai penerima vaksin, kita tinggal membuka website masing-masing wilayah dan mencari lokasi terdekat kemudian membuat janji ketemu. Di beberapa kasus, banyak juga dilakukan vaksinasi massal dengan syarat membawa ID dan social security number.

Singkat cerita, saya berhasil mendapatkan vaksin secara gratis tis,tis.

Lah, gimana? Saya kesini kan dengan visa turis biasa. Jawabannya : diplomasi. Kebetulan banget, ada kegiatan vaksinasi massal di salah satu lokasi di New York, kami pun (saya dan adik yang sudah citizen disini) berangkat kesana. Tentu saja kita diwawancara dulu sebelum vaksin dilakukan. Semua harus memiliki alasan kuat kenapa saya sebaiknya mendapat vaksin. Salah satu alasan yang mereka terima adalah, karena saya dalam masa liburan disini 1,5 bulan dan serumah dengan  orang yang seluruhnya sudah vaksin. Jadi, untuk alasan keamanan bersama, petugas pun mengijinkan. Tidak sampai hitungan menit, saya selesai divaksin.

Vaksinasi di Amerika dikelola oleh CDC  (Centers for Disease Control and Prevention). Jadi semua aturan tentang vaksin diatur oleh CDC. Di Amerika sendiri, ada 3 merek vaksin yang digunakan yaitu Pfeizer, Moderna yang dua kali dosis serta Johnson & Johnson (J&J) yang hanya 1 kali suntik. Kebetulan banget, saya dapat J&J. Keliatannya enak ya, hanya 1 kali suntik. Tapi jangan salah efek sampingnya lebih kenceng daripada dua kali suntik. Ketika divaksin saya bertanya kepada paramedis yang melakukan tindakan, tentang bagaimana dampak setelah divaksin. Dia tersenyum sambil menjentikkan ujung kukunya; yang artinya: sedikitt, nggak papa kok!

Dan ternyata, 12 jam setelah vaksinasi baru terasa, badan demam, pegal, pusing dan serba nggak enak. Saya buka web CDC, semua gejala yang saya rasakan tertera disana tapi memang hanya dua hari. Yes, bener-bener dua hari. Hari ketiga sudah benar-benar sembuh bahkan rasanya (rasanya…) lebih sehat dari yang sebelumnya. Setelah vaksin memang disarankan harus istirahat, walaupun tidak ada dampak samping. Kenapa? Karena saat vaksin masuk ke tubuh, saat itulah imun tubuh berada dalam posisi terendah. Kenapa? Karena vaksin sedang beradaptasi dengan tubuh. Namanya juga ada barang baru masuk, pasti ada yang berubah. Itulah makanya, kenapa banyak yang kena covid justru setelah divaksin.

Nah, beberapa hari terakhir ramai berita tentang wisata vaksin di Amerika. Beberapa agen perjalanan menawarkan paket perjalanan ke Amerika lengkap dengan bonus vaksin. Waktunya pun bervariasi dari 1 minggu hingga 2 minggu. Tentu saja tidak free. Ada yang menawarkan harga 9 juta vaksin saja dengan meeting point di New York, ada yg menawarkan paket beserta tiket dari Jakarta. Jujur, saya jadi bingung, jalan-jalan dengan waktu yang terbatas ditambah vaksin bukan ide yang bagus. Kecuali kalau memang habis vaksin mau stay/istirahat di hotel minimal dua hari. Lah, kalau jalan-jalannya cuma 1 minggu ?!

Hits: 1802

Nanti, saat pandemi sudah selesai saya ingin tulisan ini jadi kenang-kenangan yang bisa saya baca lagi sambil mengingat-ingat kejadian luar biasa ini. Sama seperti dulu saat iseng menulis gaya kampanye caleg ala Angel Lelga atau pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung (yang dari dulu nggak masuk logika saya) atau kebijakan tiket mahal Menhub Jonan yang awalnya saya tentang, tapi di ujungnya saya dukung penuh.

Saya yakin sebagian besar dari kita tidak akan pernah menduga virus ini mampu nyaris meluluhlantakkan hampir semua persedian kehidupan kita. Tidak cuma saya, kamu, tetangga kamu, seluruh orang Jakarta, Indonesia bahkan seluruh dunia. Pertengahan Maret lalu, Presiden Jokowi tampil di TV dan menghimbau agar kita mulai beraktivitas di rumah. Kemudian diikuti dengan tenarnya Pak Achmad Yurianto yang muncul setiap hari mengumumkan jumlah orang positif terinfeksi covid. Kehidupan pun mulai berubah.  Aktivitas 90% sudah dilakukan di rumah, ke luar rumah pun dengan perlengkapan persis mau perang.

Bersyukurlah mereka yang masih bisa menggali rejeki dari rumah. Namun di  luar sana, PHK mulai terjadi, pemotongan gaji sudah lumrah, para pekerja harian sangat susah mendapatkan orderan. Perusahaan besar, kecil semua terdampak. Ekonomi negara (bisa jadi) menuju ujung tanduk jika tidak segera diambil tindakan tindakan strategis.

Lalu Mudik atau Pulang Kampung? Tanggung Jawab Siapa?

Bermula Pak Presiden yang hanya menghimbau untuk tidak mudik, sementara kita tahu bahwa mudik ini adalah salah satu cara yang bisa membuat virus ini makin eksis di  semua daerah, bukan hanya Jabodetabek sebagai episentrum. Kritikan, protes, tudingan dituduhkan ke Pemerintah Pusat yang dianggap tidak tegas dan tidak serius menghambat penyebaran virus ini. Tapi di minggu ketiga April, mudik tiba-tiba dilarang. Apa iya tiba-tiba? Apa benar Pemerintah galau ? Nanti kita bahas.

Saat wawancara dengan Najwa Shihab, lagi-lagi Presiden Jokowi menimbulkan blunder. Polemik definisi mudik vs pulang kamu mulai ramai di masyarakat. Apa iya mudik sama pulang kampung memang beda?

Lanjut terus bacanya ya, stop dulu itu joget tiktok!

Kayaknya kalau membaca berita (apalagi judulnya doang), saya akan sama dengan kebanyakan orang. Ini pemerintah lemot amat sih? Galau amat sih? Maunya apa sih? Ok, setelah bongkar-bongkar referensi (kayak mau buat tesis aja) dan berkaca dari pengalaman sering membantu Pemerintah, saya coba bikin analisis abal-abal.

Begini Sis,…

Saya pernah nonton satu tayangan youtube tentang prediksi penyebaran covid-19 secara matematika (kayak serius amat gue) Dari hampir 15 menit video yang musingin itu, ini link-nya. Kesimpulannya; ada dua jenis kurva. Yang pertama, kurva dengan lonjangan tinggi signifikan dan kurva yang lebih landai. Di tengahnya ada garis fasilitas kesehatan (yang cenderung tidak akan bertambah signifkan atau linear saja)

Di berbagai negara yang sempat crush seperti Italia, China bahkan Amerika kurva pertama inilah yang terjadi. Kasus covid melebihi jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia. Sampai-sampai di New York, truk container pun terpaksa jadi kamar jenazah. Begitu juga Italia yang akhirnya mendatangkan bala bantuan tenaga medis dari China.

Sekarang kita coba obyektif dan cari tahu lagi. Apakah isu fasilitas kesehatan ini ada di negara kita ? Apakah ada satu peristiwa signifikan yang bilang ada sekian banyak pasien terlunta-lunta karena tidak terawat? Nyaris tidak ada. Keputusan untuk meng-utilisasi wisma atlet Kemayoran adalah salah satu keputusan terbaik. Satu lagi, kita masih punya RS di Pulau Galang Batam yang belum digunakan. Ditambah lagi rekrutmen besar-besaran tenaga medis dibantu relawan membuat hampir tidak ada isu di infrastruktur pendukung ini.

Jadi apa hubungannya kurva itu dengan himbauan dan kemudian larangan mudik?

Jokowi kok awalnya hanya menghimbau atau seolah-olah tidak melarang mudik?! Sengaja! Bukan semata-mata karena data. Itu dilakukan untuk mengurangi beban Jakarta, lalu daerah disuruh berbenah “menyambut orang mudik”. Sebelum pelarangan mudik, data Kemenhub menyebutkan sudah hampir hampir 1 juta orang mudik duluan dengan konsentrasi terbesar di Jawa Tengah.  Beban Jakarta itu apa ? Ya beban anggaran, ya beban fasilitas kesehatan, beban manajemen dan beban-beban yang lain.

Loh, tapi kan bukan berarti itu secara nggak langsung sudah membuat virus juga ikutan mudik? Nah, beginilah cara Presiden membagi tugas. Tentu, pasti ada peluang penyebaran virus ke daerah, sampai-sampai banyak Kepala Daerah sebel, loh..kok ini para pembawa virus dibiarin pulang sih?  Yah, itu.. Jokowi sedang berbagi beban. Kalau dari awal langsung dilarang, mungkin seluruh daerah tidak super antisipatif kayak sekarang. Akhirnya Ibukota pun kewalahan, sangat beda jika dari awal daerah juga sudah di-push untuk kerja. Jangan sampai daerah mikir: Santai, bro.. wong orang yang bawa virus dikurung di Jakarta. Salam hormat saya untuk Pak Ridwan Kamil, Pak Ganjar Pranowo dan Ibu Khofifah, tiga gubernur yang paling sibuk ngurusin pandemi.

Lalu kenapa sekarang dia malah melarang? Persepsi yang muncul di masyarakat: presiden galau, nggak punya pendirian, dll. Padahal, saya yakin Presiden sudah berhitung, di sekitar dia banyak kok orang-orang pinter yang masa mudanya cuma belajar doang nggak pernah nonton Netflix (hehehe..). Saat ini Jabodetabek mungkin dirasa sudah dirasa cukup untuk handle yang tersisa alias nggak mudik, dan daerah juga sudah siap kalau masih ada yang kecolongan mudik juga. Sejalan dengan itu perlengkapan pelarangan seperti: aturan, aparat dan personil yang bertugas di lapangan, sosialisasi protokol wajib kesehatan pun sudah lebih siap. Jadi tidak serta merta dilarang sejak awal, sementara perangkat di bawahnya belum siap.

Coba, kalau dari awal sudah dilarang, bisa jadi daerah nggak sekenceng sekarang effort-nya. Semua masalah numpuk di Jakarta. Yang ada saja sudah bikin kewalahan. Mulai dari urusan KRL sampai bagi-bagi dana bansos yang ada masalahnya. Saat semua daerah sudah lebih siap, dia (pemerintah) tutup deh jalur keluar Jabodetabek. Kesiapan daerah (yang tadinya mau menampung gelombang orang mudik), menjadi lebih kuat lagi, jika di awal menyiapkan kapasitas 100, eh yang datang hanya 30. Contoh gampangnya begitu.

Lalu beda mudik sama pulang kampung apaan ya? Apa Presiden emang kepeleset ngomong (again) ? Hmm, masak sih? Ya, bisa jadi beliau emang ketelingsut bicara, bisa jadi grogi dengan tatapan Najwa yang tajam.

Menurut saya, ini juga bagian dari membagi beban dan tanggung jawab. Misal kamu KTP-nya Magetan kamu ngotot pulang kampung artinya secara langsung Pemerintah Daerah Magetan punya tanggung jawab mengurus kamu, karena kamu adalah warganya. Ini definisi dan makna tersirat “pulang kampung” menurut Presiden. Beda kalau kamu sudah ber-KTP Tangerang Selatan dan mau ke orang tuamu di Solo, itu artinya kalau kamu tetep ke Solo (mudik), kamu akan menambah beban Pemerintah Solo, padahal secara administratif bos-mu adalah Ibu Airin. Ingat ya konsep berbagi beban tadi. Ok, its debat-able sih! Silakan dipikirin sendiri.

Lalu Kenapa moda transportasi dibuka lagi ?

Duarr.. ini yang lagi rame dua, tiga hari  terakhir. Pak Menteri Budi Karya yang baru lulus ujian covid 19, di hari kedua aktifnya bilang; moda transportasi dibuka lagi per tanggal 7 Mei dengan batasan-batasan penumpang tertentu sesuai SE Gugus Tugas. Nah, sayangnya.. semua media menggoreng berita ini. Headline-nya Menhub buka transportasi lagi. Pesan bahwa itu hanya untuk penumpang tertentu jarang disebutkan. Kalau pun ada kecil banget, kayak term and condition barang diskon. Ngamuklah netijen yang maha benar (padahal baca judul doang).

Di satu sisi, saya juga belum tahu bagaimana hitung-hitungan-nya. Apakah walaupun dengan pembatasan, kebijakan ini akan efektif untuk tetap membuat ekonomi berjalan? Ingat, tujuannya kan untuk tetap membuat beberapa roda ekonomi berputar, karena pebisnis termasuk salah satu kelompok pengecualian bepergian. Semoga pemerintah sudah memperhitungkan ini dengan tepat, bukan hanya “rasa rasa”.

Bepergian memang dibolehkan untuk kelompok tertentu, tapi tetap bukan untuk mudik. Tapi syaratnya berat, men! Harus tes bebas covid dululah, ijin inilah, itulah. Duh, ini saya mah malah ngeri. Ngaku-ngaku ada keluarga meninggal di kampung juga nggak sampai hati, ntar kualat.

Ingat ya, tidak ada satu pun negara di dunia yg bisa jadi bencmark penanganan covid untuk negara yang lain. Ya, ada yang bisa diambil pelajarannya tapi tidak semua, karena karakter dan demografi penduduk setiap negara sangat berbeda. Memang ada perkara permudikan di negara lain ? Ada nggak yang seheboh Indonesia mobilitas yang meninggalkan ibukota hampir menjampai 26 juta orang setiap Idul Fitri ? *Please, topiknya disini aja ya, jangan ngeyel dengan argumen : “salah sendiri, kenapa pembangunan nggak merata”.

Saya nggak belain pemerintah, wong PR mereka masih banyak banget dan yang sudah dilakukan pun masih belum sempurna. Saya hanya membantu mengurai, biar kita sama-sama berpikir obyektif dengan tetap wajib memberikan masukan yang konstruktif, bukan pakai emosi grasuk grusuk, tapi pakai analisis yang tepat.

Kita harus paham, mengambil kebijakan itu ibarat minum pil, selalu ada efek sampingnya. Kadang kita memang harus minum dua pil bersamaan, karena memang penyakitnya nggak cuma satu. Sekarang PR besar pemerintah adalah soal kesehatan dan ekonomi. Seperti buah simalakama, sulit dipilih. Walau fokus pada penanganan dan pencegahan virus, ekonomi tetap harus berjalan walaupun dalam porsi yang minimal. Jangan sampai kesehatan jatuh, ekonomi jauh lebih terperosok lagi.

Karena sakit, kita harus minum obat. Tentu saja, dokter sehebat apapun tidak akan bisa menjamin 100% obat-obatan itu nggak ada efek sampingnya.  Minum obat pusing, eh..jadi mual. Nggakpapa, mualnya sedikit kok, masih bisa diatasi. Kuncinya ada pada dosis yang tepat bukan dosis yang ekstrim untuk satu obat saja. Pelan-pelan keduanya akan membaik.

Sama kayak pos checking mudik, dijagain dimana-mana, eh.. masih ada aja yang kebobolan lewat jalan tikus. Terus dengan entengnya kita bilang : Tuh, kan, aturannya nggak efektif. Padahal saya yakin 1000% kamu nggak nyari data berapa banyak mobil yang disuruh pulang. Kamu cuma fokus sama kegagalannya yang sedikit, dibanding hasil dan upayanya yang kenceng. Terus kalian berkoar-koar deh dimana-mana bahwa semua nggak ada manfaatnya. Sementara kamu sendiri, masih santai keluar rumah bukan untuk urusan yang mendesak.

Salah siapa ? Salah Gue? Salah Pak Polisi? Salah pola pikir kita! Salah cara kita yang lebih senang menyalahkan orang. Sekarang saya tanya, apa sih berita yang nggak digoreng sama media? Lalu kita dengan mudahnya menyalahkan cara penyampaian lembaganya yang kurang inilah, kurang itulah. Ya semua akan kurang kalau kita juga tidak mau diedukasi. Kita hampir selalu lupa cara kita membaca, menyimak dan menyebarkan berita itu. Ada segmen-segmen tertentu yang memang tingkat penerimaannya rendah, ya tapi kalau kalian lebih cerdas dari mereka, ya nggak usah ikut-ikutan menghujat juga dong.

Sejalan dengan itu kampanye untuk tidak mudik terus digembar-gemborkan. Riset bilang lebih dari 75% alasan orang mudik itu alasan emosional, bukan terutama karena materi. Tapi karena kangen keluarga dan sudah menjadi ritual tahunan. Artinya, orang-orang yang tidak mudik ini harus didekati dengan hati, diberi kesadaran bahwa tidak mudik ini bukan buat Anda saja, tapi buat keluarga, buat semua bahkan buat negara agar segera kembali bangkit. Kalau masih nekad juga? Ya silakan saja, tapi siap-siap denda hingga 100 juta menunggu,

Capek juga ngetik. Pegel. Udah dulu ah,..

Terakhir, kalau kamu masih bisa duduk di rumah, buka Instagram, baca blog ini, main tiktok, makan kenyang, gaji aman (walau dipotong), sudah nggak usah ikutan menghujat. Semua pelaksana penanganan covid di negara perlu kepercayaan dan dukungan. Duduk manis aja di rumah. Nggak usah mudik, nggak usah kemana-mana. Alhamdulillah kalau masih bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan.

Nggak usah nambah dosa, bulan puasa.

Hits: 1884

Kalau ada travel blogger paling kasian di Indonesia mungkin sayalah orangnya. Bayangin, udah setua dan selama ini saya belum pernah ke Labuan Bajo. Goblok gak sih? Ceritanya ini adalah destinasi impian saya sejak dulu. Sungguh, bukan Amerika yang jadi mimpi saya. Tapi entah kenapa selalu saja batal kesini, bahkan beberapa tahun lalu, saya pernah menang lomba blog yang hadiahnya tiket Garuda gratis ke satu destinasi pilihan di tanah air dan saya pilih kesini. Itu pun nggak bisa digunakan, karena berbagai alasan. Mungkin memang belum takdirnya kesana sih, jadi ya sudahlah..

Bulan lalu, salah seorang teman baik memberikan saya hadiah ulang tahun tiket Jakarta-Labuan Bajo (PP). Sudah siap-siap deh saya 11 oktober merayakan ulang tahun di Pulau Padar. Lucunya, dua hari menjelang hari keberangkatan, teteppp ajaaa harus dimundurkan. Gw tetiba berasa menteri-nya Jokowi banget, yang super duper sibuk. Daripada hangus total, akhirnya saya mundurin deh, dengan konsekuensi nambah biaya.

Dengan waktu disana hanya tiga hari dua malam, dan persiapan pun yang kurang lebih nggak sampe dua hari, saya cuma mengeluarkan dana satu juta rupiah saja (di luar tiket pesawat), untuk hotel, makan, transportasi dan biaya trip keliling beberapa pulau. Mahal atau murah? Mungkin relatif ya, tapi untuk semua fasilitas dan kenyamanan private yang saya dapat sih, menurut saya ini murah banget untuk solo traveling. Malah mungkin bisa lebih murah loh, kalau perginya rame-rame.

Kalau saya bikin trip liburan mahal di Labuan Bajo, pasti nggak bakal banyak yang baca. Makanya  saya bikin tips ala sobat Misqueen dan berikut tips dari saya.

Nginep di Hostel

Disini, kisaran tarif penginapan dari yang cuma 150 ribu semalam hingga 10 juta pun ada. Bener deh, Labuan Bajo sudah menjelma menjadi surga wisata bahari untuk semua kelas dan golongan. Nah ke tujuan manapun komponen yang bisa menghabiskan budget terbesar itu adalah hotel, so saya menemukan beberapa hostel lucu imut, murah pake banget, instagramable, bersih dengan view yang nggak kalah dengan hotel bintang 5. Serius! Namanya One Tree Hill Hostel. Saya cuma bayar kurang lebih 300 ribu untuk menikmati panorama seindah ini (lihat foto).  Jangan gengsi, tempatnya enak banget kok!

Saya memilih kamar dormitory paling atas, yang seharusnya dihuni kurang lebih 10 orang, soalnya ini yang paling bagus posisinya. Thank God, ketika saya kesana kamarnya kosong dan saya sendirian. Jadi tetap berasa kamar private dengan balkon yang juga private. Sejujurnya ini bukan total liburan, karena saya masih menenteng laptop buat menyelesailkan beberapa pekerjaan. Meski bekerja, suasananya sangat mendukung, sepi, adem dengan aroma biru laut sejauh mata memandang membuat semua terasa menyenangkan. Ini suasana liburan yang saya suka.

Kontur dataran hostel ini berundak-undak seperti bukit. Makanya kamarnya terpisah-pisah dan dihubungkan dengan banyak tangga. Lucunya bentuk setiap kamar seperti rumah-rumah pantai di Brighton Beach, Melbourne Australia. Kamar mandinya bersih, terawat dan karyawannya pun memiliki keramahan khas orang Indonesia Timur. Di sisi paling atas ada bar dengan konsep terbuka yang cocok banget buat duduk “ngegalau” sambil memandang birunya laut Labuan Bajo yang luarrr biasa. Makanannya pun cukup murah, bahkan jika mau lebih hemat, disediakan dapur untuk memasak sendiri.

Oya, jarak antara hotel ini ke tengah kota atau pelabuhan memang sedikit jauh. Kurang lebih 5 km. Tapi, hostel menyediakan mobil yang siap mengantar kemana saja dengan biaya Rp30 ribu saja per trip. 

Datang pada bulan bulan Oktober-November

Kata orang bulan dengan akhiran ber-ber bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke daerah pantai, tapi itu tidak berlaku untuk jalan-jalan ke NTT. Provinsi ini diketahui, salah satu daerah dengan curah hujan terendah. Jadi jangan takut, justru ini bulan terbaik karena harga-harga yang murah dan cenderung sepi. Nggak perlu liat Pulau Padar penuhnya kayak cendol dan nggak perlu liat orang di Pulau Komodo seperti komodo semua. Hahaha.. Bulan terbaik memang April-Mei, karena deretan pepohonan sedang menghijau, menjadi perpaduan yang cantik  bersama tosca-nya laut. Tapi tentu saja ini bulan termahal. Ayo, kamu yang nafsu liburan kenceng, tapi dompet tipis mana suaranya?!

Kalo bisa jangan sendirian (kecuali terpaksa)

Ini bukannya ngomongin kaum jomblo ya, tapi barengan dengan beberapa orang teman akan sangat membantu. Di Labuan Bajo, nyaris nggak ada kendaraan umum. So, kalau mau kemana-mana harus sewa kendaraan, lebih irit kalau dengan rombongan kan? Selain itu, kalau nginep di hostel barengan dengan orang-orang yang kita kenal, mungkin akan mengurangi rasa canggung. Mau sewa kapal juga lebih murah urunannya. Makanan pun bisa sharing. Intinya banyak yang bisa dibeli dengan urunan. Katanya sewa motor juga bisa lebih murah loh! Sayang, saya nggak bisa nyetir motor. Hehehe..

Daftar oneday trip setelah tiba di lokasi.

What?! Nggak salah?!! Pasti banyak yang nggak setuju nih, keliatan kurang prepare padahal sekarang jamannya online. Jujur, saya ikut oneday trip juga pesan online duluan dari Jakarta. Ternyata, kalau kita datang pada musim-musim sepi, lebih baik pesan di lokasi. Banyak sekali agen-agen di seputaran pelabuhan dan Kampung Ujung yang menawarkan islands hoping. Biasanya mereka bisa banting harga pada hari keberangkatan atau H-1, daripada kapalnya kosong, iya kann? Gamling? Pasti! Makanya datangnya jangan sendirian. Kalau rame-rame pasti lebih seru. Susahnya juga rame-rame

Beli makan di sekitar pelabuhan dan kampung ujung.

Ini adalah lokasi para pelancong backpacker. Banyak warteg dan rumah makan sederhana disini. Penjualnya rata-rata orang perantauan. Harga seporsi lengkap dengan lauk ayam atau ikan, tidak lebih dari Rp15 ribu saja. Kalau tinggal lebih lama, misalkan seminggu, masak saja di hostel! Dijamin lebih irit, tanpa mengurangi kesyahduan liburanmu.

Gimana, sudah siap ke Labuan Bajo (lagi) ?!

Hits: 3102

Kembali ke Seaworld, mengingatkan saya akan mata kuliah Ikhtiologi yang khusus mempelajari anatomi ikan. Kalau dulu jaman kuliah, saya masih hapal hampir seluruh nama latin biota-biota di Seaworld, sekarang boro-boro, sudah lupa semua. Tapi itu semua tidak mengurangi cintanya saya dengan laut dan semua keindahan di dalamnya.

Memang kehidupan bawah laut selalu menarik, tidak harus snorkeling atau diving lagi untuk melihat semua itu, cukup datang ke Sea World, kita sudah bisa dibuat takjub dengan indahnya ciptaan Tuhan ini. Seperti halnya wahana-wahana lain di Ancol, Seaworld tidak pernah berhenti berinovasi dan membuat atraksi-atraksi baru yang menarik. Tidak cuma jadi tontonan, tapi juga banyak sekali unsur edukasi di dalamnya.

Sebelum lanjut, ngomong-ngomong kalian tau nggak sih, setiap tahunnya ada 100 juta ekor hiu yang dibunuh? Siripnya yang mahal dan konon merupakan obat yang manjur bagi berbagai penyakit membuat hiu ganas pun tetap dicari. Walaupun tergolog karnivora yang bisa mengancam nyawa manusia, fakta menyebutkan dalam 1 tahun “hanya” 6 orang yang mati karena diserang hiu. Dari angka-angka itu kita bisa lihat siapa yang sebenarnya “the real predator”. Sebagai catatan juga, hiu tidak akan menyerang manusia, kalau tidak diserang duluan. Padahal, jika ada satu biota yang rusak pasti akan mengancam keseluruhan ekosistem yang pada akhirnya kembali merugikan manusia sendiri.

Beberapa jenis tergolong ganas seperti hiu kepala martil (hammerhead shark), menempati urutan keganasan nomor 6 dunia, disusul Hiu Sirip Hitam (blacktip reef shark), posisi 26,Hiu Buto  (giant nurse shark) urutan ke 32. Dann… semua jenis itu ada di Seaworld ini.

Nah, yang terbaru dari Seaworld bernama Face to Face with Shark. Ngapain tuh? Ngobrol sama hiu? Ini nggak cuma ngobrol, tapi ngasih makan tanpa menggunakan alat khusus. Kalau biasanya pakai kerangkeng, Seaworld menghadirkan langsung dua penyelam professional yang memberi makan hiu dengan tangan alias menyuapi hiu.

Wuih, serem nggak tuh?

Mas-mas penyelam menggunakan kostum khusus yang terbuat dari logam dan disebut Shark Suit. Beratnya mencapai 15 kg, loh! Katanya proses menggunakannya saja makan waktu sampai 20 menit. Tentu saja meskipun menggunakan pakaian yang ganti gigitan, tetap perlu pelatihan yang intensif. Satu penyelam akan berada di tengah-tengah hiu, satu lagi bertindak sebagai rescue yang menunggu di bibir kolam. para penyelam membawa ikan segar sekitar 5-7 kilo gram dalam sekali pemberian makan, yang berlangsung selama 10 menit. Ikan hiu akan agresif banget dengan bau amis ikan segar, mereka keliatan kelaparan yang membuat atraksi ini menegangkan, 

Para penyelam, setelah show

Pokoknya, atraksi unggulan Seaworld yang baru ini, wajib banget jadi tempat liburan baru. Pertunjukannya pun ada setiap hari di pukul 14.00. Buat yang penasaran, segara atur jadwal buat bisa kesini, sekalian Kembali Ke Ancol. Kuy lah!

 

Hits: 1872

Siapa disini yang bekerja di ibukota dan akrab dengan ke-semerawut-an lalu lintas? Stress atau masih tetap sabar? Kebayang deh, berangkat sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam, dan terkadang masih harus melanjutkan pekerjaan di rumah. Persis seperti saya beberapa tahun lalu. Wajarlah kemudian rumah menjadi tempat yang paling nyaman dan dirindukukan.

Saat ini, setelah resign dari dunia korporasi, saya memutuskan mengembangkan perusahaan sendiri dimana saya menganggap rumah juga adalah kantor. Home office istilah kerennya saat ini. 

Dikutip dari situs Lamudi.co.id, di kota-kota besar  seperti Jakarta sudah banyak yang mengaplikasikan home office.  Sebagai contoh, jika kita search rumah dijual di Jakarta Timur, sangat banyak. Daerah ini memang kurang populer sebagai kawasan perkantoran, akhirnya untuk mengefisienkan waktu dan biaya, banyak orang yang memilih menjadikan rumahnya sebagai kantor.

Nah, walau pun di rumah, suasan kerja tentu saja tetap perlu diciptakan. Males dong, kalau kerja di rumah yang berantakan dan kotor. Boro-boro beresin kerjaan, ide pun malas mendekat. Untuk itulah home office pun perlu ditata, direnovasi kecil-kecilan-lah. Satu cara termudah untuk melakukan renovasi home office -yang pada dasarnya sama seperti properti hunian lainnya- adalah dengan mengubah warna. Selain menjadi salah satu faktor hidupnya ruangan, warna memiliki peran secara psikologis untuk merdorong siapapun yang tinggal dan bekerja untuk lebih semangat dan antusias.

Banyak warna tentu banyak rasa dan nuansa, namun terkhusus untuk nuansa yang tepat dalam sebuah home office, ada beberapa warna yang ngetren dan sangat direkomendasikan. Dilansir dari Freshome, berikut adalah beberapa pilihan warnanya.

Monokrom

Ingin ruangan kerja Anda terlihat modern? Monokrom tidak pernah salah. Namun, untuk ruang kerja, alangkah baiknya mendominasikan monokrom tersebut dengan warna putih. Kantor rumah dijual di Jakarta Timur seperti daerah Cijantung rata-rata mengaplikasikan warna putih pada ruangan kerja mereka karena dalam psikologi, putih dapat membantu mengurangi rasa nyeri karena memberi kesan luas dan bebas. Kesan minimalis juga terasa karena warna putih mampu memberikan hawa tenang.

Agar nggak ngebosenin, hadirkan aksesoris ruangan seperti lukisan dan potret yang berwarna.

Gradasi Warna Cerah

Jika kamu adalah tipe orang yang tidak bisa duduk terlalu lama, tetapi dipaksa untuk bekerja di tempat duduk dan menatap komputer dalam kurun waktu berjam-jam, tentu ni akan menjadi hal paling membosankan. Namun, ruangan kerja bisa diakali dengan memberi gradasi warna cerah seperti merah, kuning, hijau, dan ungu. Beberapa rumah dijual di Jakarta Timur atau sejenis home-office sudah mengaplikasikan warna ini pada ruang kerja mereka. Warna-warna tersebut dipercaya dengan instan mengangkat suasana dan semangat dalam bekerja walau hanya sendirian. Gradasi warna cerah juga terkesan seperti di kantor yang sebenarnya.

Merah Maroon

Kita suka melihat warna merah maroon di beberapa tempat seperti perpustakaan, kantor, atau rumah dijual di Jakarta Timur. Warna merah maroon bisa membuat kita lebih fokus. Dikenal sebagai warna yang ‘berani’, warna ini secara tidak langsung akan memberikan kesan elegan pada setiap sudut ruangan. Jika dibandingkan dengan warna merah biasa, merah maroon tidak mencolok dan dapat dipadukan dengan warna lain, contohnya dengan menggabungkan warna maroon dengan warna netral seperti nuansa hitam dan coklat yang membuat dekorasi lainnya tidak bersain dengan warna dinding. Sentuhan karpet merah muda membuat nuansa bekerja lebih terasa.

Jadi, di atas adalah beberapa warna yang bisa kamu gunakan untuk ruangan kerja. Tidak ada tempat yang lebih baik daripada rumah. Semoga membantu!

Hits: 1484

Kamu kamu penikmat kereta saat ini, mungkin kamu belum pernah ngerasain kereta jaman dulu. Iya, nggak dulu-dulu banget sih, sekitar 10-15 tahunan yang lalu (*ketauan tua banget ya, gw..). Saat itu, kalau naik kereta ekonomi dari Stasiun Pasar Senen dimungkinkan sekali kamu bisa satu gerbong dengan kangkung dan sayur mayur lainnya. Belum lagi banyak orang tidur di lorong. Selain nggak nyaman, Aduh, bener-bener malu-maluin kalau ada turis asing.

Beda banget dengan sepuluh tahun terakhir, kereta api Indonesia sungguh sungguh berbenah. Pelan tapi pasti semua stasiun dibenahi. Nyaman, aman dan hampir tidak ada lagi kesan kumuh khas negara terbelakang. Tidak ada lagi namanya kereta ekonomi yang jadi simbol kemiskinan. Kereta ekonomi pun sekarag bersih, ber AC dan nyaman. Apalagi sekarang bisa pesan online. Yes banget! Kalau dulu hanya bisa lewat web PT KAI, sekarang beberapa travel agen online pun sudah membuka penjulan tiket kereta online. Salah satunya Pegipegi. Com. Terus terang, dari dulu saya sering cari hotel di Pegipegi karena harganya lebih miring dari travel agent online lain. Silakan buktikan sendiri, deh.. Nah, pas tau tiket kereta api juga bisa dibeli melalui Pegipegi, rasanya komplit banget deh! Makin bangga kan jadi warga +62…

Oya… catatan nih, kalau mau naik kereta, usahakan jangan beli mendadak, karena ada komunitas pekerja Jakarta asal Yogya yang menamakan diri PJKA (Pergi Jumat Pulang Ahad), yang pasti memenuhi gerbong kereta di akhir pekan. 

Saya terakhir naik kereta jarak jauh ke Yogyakarta. Entah kenapa, Yogya adalah salah satu kota yang membuat saya merasa “hommey”. Entah mungkin karena saya memang numpang lahir disana atau karena Yogya selalu menawarkan kedamaian yang membuat waktu seolah berjalan perlahan.

Saya menumpang kereta malam dari Stasiun Gambir pukul 22.00 dan tiba di Stasiun Tugu pukul 04.00. Nggak berasa, karena kita bisa tidur dengan enak sepanjang perjalanan. Saat tiket pesawat mahal banget beberapa waktu belakangan, kereta benar-benar jadi alternatif yang tepat. Dihitung-hitung waktu ke bandara, menunggu boarding kurang lebih sama deh dengan perjalanan dengan kereta. Enaknya lagi, stasiun Tugu kan berada di pusat kota, jadi nggak perlu rempong cari kendaraan seperti jika kita mendarat di bandara Adi Sucipto.

Selepas menyimpan koper, tujuan pertama saya di Yogya adalah Malioboro. Saya memang doyan banget hunting batik  dan aksesori murah. Lumayan bisa dapet celana batik adem yang modis hanya 50 ribu saja. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan makan gudeg. Nah, kali terakhir saya ke Yogya, aktivitasnya bertambah, apalagi kalau bukan ngopi. Ini gara-gara tahun 2017, film Ada Apa dengan Cinta syuting di salah satu warung kopi di daerah Prawirotaman. Sellie Kopi namanya. Seingat saya kopi-nya masih di-brew manual, tepatnya agak sempit dengan pencahayaan yang diatur remang-remang. Pas buat ngobrol santai. Tidak disarankan kesini membawa gadget buat kerja, tempatnya memang buat bercengkerama.

Prawirotaman bisa dibilang pusatnya warung kopi di Yogya. Disini penginapannya juga murah-murah, makanan pun terjangkau, tempat nongkrong dekat-dekat. Nggak heran banyak bule backpacker betah berlama-lama disini.

Yang paling unik, saya sempat main ke Klinik Kopi. Tempatnya di daerah Kaliurang dan agak blusukan. Saya bolak-balik dengan abang ojek online, nyaris nggak ketemu. Uniknya, cara pesannya bukan dengan daftar menu, tetapi dengan memberi nomer antrian sebagai nomer konsultasi tentang kopi. Persis seperti klinik dokter. Meski tempatnya jauh dan nyarinya susah, ternyata antriannya ramai, gaes! Buat kamu yang sukanya kopi sachet yang manis dan creamy, siap-siap aja di klinik kopi kita “dipaksa” minum kopi hitam secara utuh yang memang terasa mirip wine.

Jadi sekarang Yogya bukan hanya wisata budaya, tapi sudah jadi wisata kopi. Ikutan dong kalau mau ke Yogya!

 

 

Hits: 1756

Apa yang kalian tahu soal Nazi? Pastilah yang pertama disebut adalah Adolf Hittler, pemimpin Nazi yang sangat terkenal dengan kekejaman dan kediktatorannya. Saya – yang malas belajar sejarah- juga nggak banyak tahu, sampai akhirnya bulan lalu saya mampir ke Holocaust Museum di Washington DC, Amerika Serikat.

Saya kesini dengan keluarga, rombongan sirkus deh. Oya, kalau kesini naik kendaraan pribadi, parkirnya agak jauh, lumayan jalan kaki. Naik kendaraan umum saya kurang tahu deh gimana caranya. Hehehhe. Tapi banyak juga rombongan pelajar yang kesini dengan menyewa bus. Kalau di Jakarta (Indonesia) mirip mirip carter Big Bird gitu deh. Btw, sekarang juga sudah ada Big Bird Airport Shuttle, loh! Lebih variatif kan pilihan angkutan ke bandara. Nah, sekalian informasi, lihat harga big bird di situs ini deh…

Awalnya saya ke DC cuma pengen foto di depan gedung putih dan Capitol Building yang jadi salah dua landmark Amerika Serikat. Ini kali pertama saya ke DC, karena keluarga saya baru saja pindah dari Arizona ke New Jersey, dan DC bisa ditempuh hanya sekitar 4 jam dari rumah. Katanya, kalau ke DC nggak mampir ke museum favorit ini, rugi juga. Atraksi ini masuk “Must See” Museum di Amerika. Apa sih istimewanya? Check this out!

Futuristik vs Oldiest

Tidak seperti museum lain yang menyediakan konter pembelian tiket, Holocaust Museum tidak menjual tiket, tapi memberlakukan reservasi yang dengan pengaturan yang cukup unik. Selama periode September hingga Februari, museum ini bisa dikunjungi tanpa reservasi alias dateng aja langsung. Sementara untuk Maret hingga Agustus, ada beberapa cara; yaitu timed ticket dimana kamu boleh masuk dan berkeliling hanya dalam waktu kurang dari 90 menit. Reservasi harus dilakukan minimal 1 jam sebelumnya (itu juga kalau belum penuh) Untuk menghindari nggak dapet kuota, ada baiknya dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa juga memilih tiket same day ticket online, jumlahnya terbatas dan dibuka mulai jam 6 pagi. Nah alternatif kedua ini, yang kemarin saya gunakan. Memang agak rempong, sih…

Museum ini, tampak depannya dirancang futuristik, tapi setelah melewati gate masuk pertama, kita justru naik lift yang berasa kayak ada di tahun 1940-an, persis saat kekejaman Holocaust terjadi. Saat masuk juga kita diberikan semacam kartu kecil berukuran sekitar 5×6 cm yang berisi biodata korban Holocaust. Jadi setiap pengunjung, bisa saja mendapatkan kartu yang berbeda.

Suasana mencekam sangat terasa ketika memasuki etape awal. Otak saya mencoba berpikir sebisanya dan seingatnya apa yang saya tahu tentang Nazi tapi ternyata memang saya nggak tahu banyak. Heheheh.. *contoh siswa malas belajar dan suka bolos pas pelajaran Sejarah.

Walau nggak terlalu dianjurkan buka HP untuk Googling, Holocaust Museum membuat semua kejadian runut dan saya seperti belajar kembali. Holocaust yang merupakan peristiwa terbesar pembantaian hampir 6 (bahkan ada yang bilang 17 juta) juta Yahudi dengan genosida (racun) yang dilakukan oleh Nazi pada tahun 1945. Pembantaian ini karena Nazi menganggap Yahudi adalah ras inferior yang akan membahayakan kekuasaan Nazi terhadap Jerman bahkan dunia.

Bagaimana cara mereka dibunuh? Korban Holocaust dimasukkan ke dalam camp-camp pembantaian yang diberi gas genosida dan orang-orang di dalamnya kemudian mati perlahan-lahan karena menghirup gas beracun tersebut. Rentetan peristiwa inilah yang ditampilkan di Museum ini. Sejarah Perang Dunia I yang menjadi latar belakang, kehidupan Nazi, dan berbagai peristiwa yang terjadi serta bagaiaman dunia melihat Holocaust ditampilkan disini.

Berbagai artefak Holocaust mulai dari dokumen-dokumen sejarah baik kertas, video maupun suara masih tersimpan dengan baik dan sungguh mampu membuat bulu kuduk berdiri. Antrian manusia yang dipaksa masuk ke camp camp pembantaian terlihat jelas dalam berbagai foto. Bukti-bukti material seperti pakaian para korban Nazi pun disajikan dengan “spooky”. Termasuk pula alat-alat penunjang digunakannya genosida.

Museum ini memiliki lebih dari 12 ribu artefak, 49 juta lembar dokumen, 80 ribu foto-foto, catatan 200 ribu nama orang yang selamat dan kurang lebih 9000 testimoni dari mereka yang menjadi saksi peristiwa penting di dunia ini.

Ruangan demi ruangan ditata dengan tema yang berbeda-beda. Mungkin kalau kita kurang tertarik sejarah,membaca dokumen pasti menjadi sesuatu yang membosankan. Namun museum ini memberikan rasa yang berbeda. Kita tidak cuma belajar sejarah, tapi seolah-olah kembali ke masa peristiwa ini terjadi. Sayangnya, saya nggak berani ngambil foto banyak-banyak di dalam ruangan. Memang tidak ada larangan sih, tapi melihat pengunjung lain yang gadgetless, saya pun membatasi menggunakan HP.

Rasanya waktu 2 jam berkeliling nggak cukup buat saya. Saya bener-bener belajar sejarah Nazi yang selama ini mungkin cuma Hittler-nya yang nempel di kepala saya. Tapi jalan-jalan kesini membuat saya semakin yakin kekerasan pada kemanusiaan adalah cara terburuk untuk melanggengkan kekuasaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hits: 1951

Kalau ada orang yang seneng transit lama-lama, itu mungkin saya. Setiap berkunjung ke US menengok keluarga, saya sering mencari penerbangan dengan transit yang lama. Alasannya, tiketnya biasanya lebih murah plus ada kesempatan untuk keluar bandara jalan-jalan! Lumayan kan, bisa nambah cap paspor tanpa harus “sengaja visit”.

Selama ini, Saya sudah pernah transit dalam waktu hampir atau lebih dari 10 jam di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura (yang dua ini, bosenlah ya, nggak usah diceritain), kemudian Seoul, Tokyo, Riyadh hingga Beijing. Dari semua itu, ada yang transit tengah malem, jadi nggak bisa keluar. Ketika di Jepang, sudah kebayang foto-foto gemes buat instagram, taunya sebelum berangkat saya flu berat. Ya, sudah.  Waktu mendarat di Narita, Saya justru mencari hotel jam-jam-an buat tidur enak. Cuaca yang saat itu yang hanya 2 derajat celcius juga tidak mengijinkan buat jalan-jalan.

Nah, minggu lalu dalam perjalanan New York-Jakarta dengan menumpang Air China, ada transit di Beijing selama 11 jam. Horee! Sebelumnya saya sudah googling tentang aktivitas long haul transit disini, dan Alhamdulillah ada free Visa transit untuk penumpang pesawat di seluruh bandara China selama hingga 144 jam. Sayangnya, di web resmi Pemerintah China, Indonesia tidak disebutkan sebagai salah satu negara yang eligible untuk mendapatkan visa transit on arrival tersebut. Belajar dari pengalaman di Seoul beberapa tahun lalu, saat landing di Beijing tetap saya coba dan tetap di-approve! Yeayy!!

Ini dia step-by step buat kalian yang akan transit di Beijing dalam waktu lama.

  1. Saat mendarat, langsung menuju bagian jalur ke imigrasi. Lakukan scan paspor di mesin-mesin yang tersedia
  2. Tanyakan pada petugas berseragam, dimana lokasi permohonan free visa on arrival
  3. Isi form, ikut antrian
  4. Balik ke gate imigrasi untuk cap paspor seperti prosedur biasa.
  5. Yess! China, I am coming!

Scan Paspormu…
Counter Apply Visa

Pertanyaan paling penting, mau kemana sih selama transit?! Banyak pilihannya, bahkan kalau kamu transitnya hingga 15 jam bisa ke Great Wall! Transit 10 jam pun bisa, namun sepertinya harus menyewa kendaraan, karena kalau naik angkutan umum (MRT), pasti banyak nyambung-nyambungnya dan memakan waktu relatif lebih lama. Ada juga tour khusus untuk penumpang transit, tapi harganya cukup mahal. Sila googling ya. 

Nah, tulisan kali ini khusus buat kalian yang mau transit “swasembada” alias jalan-jalan sendiri dengan budget yang ditentukan sendiri.

Setelah keluar dari imigrasi, cari counter Tourism Information. Jangan kaget, waktu saya kesana, hanya ada satu orang yang bisa berbahasa Inggris, so buat nanya-nanya pun harus antri.

Tanyakan kira-kira begini: I have about ten hours before my next departure this afternoon, could you give me any suggestion what is good place to go?! Saya diusulkan ke dua tempat yaitu Beijing City Center dan Forbidden City. Di pusat informasi ini, kamu juga bisa tanya-tanya transportasi ke lokasi tujuanmu. Saya memilih Forbidden City yang bisa ditempuh dengan MRT atau naik taksi. Kalau naik taksi kurang lebih 30 menit saja (tanpa capek-capek) dengan biaya kurang lebih 200 Yuan (sekitar Rp400 ribu), atau naik MRT (yang 3 kali nyambung, jalan kakinya panjangggg… dan capek) dengan biaya PP 60 Yuan (sekitar Rp120 ribu). Tentu saja saya memilih naik MRT, selain nggak punya duit, pengen ngerasain juga naik MRT di China, yang ternyata nggak beda dengan KRL Jabodetabek saat jam kerja. Rrrrr. Bedanya tentu saja, jalurnya sudah buanyaakk banget, nggak beda jauh dengan ke-crowded-an Subway di New York City. Hmm, bikin makin kagum sama China.

Tiket MRT Beijing

Oya, jangan lupa tukar uangmu ke yuan, ya! Nah, yang nyebelin ternyata penukaran uang di Bandara Beijing cukup menguras kantong, berapa pun nilainya akan dipotong sekitar USD 9, lumayan banget sih, tapi karena butuh, ya apa boleh buat. Kenapa perlu cash? Karena kayaknya nanggung aja, kalau beli minuman 5-10 Yuan doang harus pake kartu. Untuk beli tiket MRT pun baiknya cash, karena harganya relatif murah, repot amat kalau harus kena kurs CC atau debit yang mahal.

Menuju Forbidden City

Sebelum berangkat, ada baiknya minta peta rute MRT yang diberikan gratis di Tourism Center. Jangan kaget, kalau semuanya ditulis dalam huruf Han Zi. Biar gak stress (karena nggak bisa bacanya.. wakakakka), minta petugas tourism center menandai stasiun dimana kamu harus turun dan nyambung kemana. Di setiap stasiun, banyak ditempelkan peta yang sama tapi ada huruf latinnya. Saya selalu foto lokasi dan nama stasiun tujuan, supaya nggak perlu nanya-nanya lagi pas mau jalan balik ke bandara. Ke Forbidden City, harus transit 2 kali, berarti ada 3 stasiun yang harus diingat dengan baik.

Sepanjang perjalanan, Saya memilih berdiri dekat pintu, yang ada lampu penanda setiap stasiun. Jadi, nggak bakal kelewatan stasiun tujuan, karena setiap kereta mau berhenti lampunya akan kelap kelip. Hahaha, cara goblok tapi efektif kan? Memang ada voice over pemberitahuan stasiun berikutnya, tapi karena dalam dialek dan bahasa China, kadang-kadang nggak kedengeran dengan jelas. 

Pas sampai di Tiananmen Square yang merupakan pintu masuk ke Forbidden City, saya shock! Antriannya puanjangggg bangettt.. Beneran kali ada ribuan orang, dan lucunya sebagian besar justru orang lokal, mungkin lokalnya dari luar Beijing ya, kan tau sendiri, China adalah salah satu negara terluas dan terbanyak penduduknya. Antrian harus memasuki pemeriksaan security, x-ray dan menunjukkan tanda pengenal. Bagi warga lokal, seperti scan KTP, tapi kalau turis hanya melihatkan paspor. Kalau liat antriannya, pokoknya bikin males deh.

Bersama saya, seorang bule Itali yang juga penumpang transit, nekad ngajakin saya “cut the lane”. Katanya gini kira-kira dalam bahasa Indonesia: “Udah, kita motong aja, kita nggak ngerti juga bahasa-nya dan besok juga nggak ketemu lagi!” Awalnya ragu-ragu, tapi kami nggak punya pilihan. Ya sudah.. motong deh, dengan santainya. Eh, ajaibnya si orang-orang China itu nggak komplen loh, cuma ngeliatin doang. Mungkin sesama mereka sih bikin “ghibah”. Tapi bodo amatlah ya.. nggak ngerti juga mereka ngomong apa. *Nyengir Suster Ngesot*

Tiananmen Square

Ternyata Forbidden City sangattt amaat luas mencapai hampir 720 Ha. Bangunan peninggalan Dinasti Ming ini memiliki lebih dari 900 bangunan. Ada bangunan free untuk didatangi, ada juga yang berbayar karena telah dijadikan museum. Saking luasnya, sepertinya tidak mungkin dikelilingi dalam satu hari. Oya, di dalam Forbidden City nggak ada kendaraan loh, jadi benar-benar harus kuat jalan kaki, makanya angan lupa bawa air minum kalau kesini. Forbidden City ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia yang wajib dijaga.

Jangan kaget juga, ada ribuan manusia yang berkunjung kesini setiap harinya walaupun bukan akhir pekan. Oleh karena itu, jalur jalan-jalannya hanya dibuat satu arah, jadi pintu masuk dan keluar sangat amat jauh dan berlawanan arah. Kalau dua jalur, bisa-bisa tabrakan kayak Tragedi Mina jaman dulu. Di sisi jalan keluar banyak restoran dan toko-toko souvenir dengan nuansa yang China banget. Pas buat jadi lokasi foto.

Sayangnya, waktu saya terbatas buat mengeksplor lebih jauh. Setelah puas foto-foto, saya pun kembali ke bandara dengan rute yang sama seperti perginya. Sebenernya, masih cukup sih waktunya kalau mau main ke City Center, tapi kaki udah terlanjur pegel dan tegang plus belum tidur nyaman setelah perjalanan 14 jam dari Amerika Asia.

Btw, kalau ada yang nanya soal jaringan data, yes di China hampir semua aplikasi buatan Amerika di-blok. Jangan harap bisa Whats-App-an, apalagi bikin insta strory kalau beli kartu dan menggunakan wifi lokal. Saya sih kemarin, buka roaming internasional telkomsel pasca bayar, Rp120 ribu untuk 1 GB data, biar tetap bisa eksis. Alternatif lain, bisa sewa modem wifi bawa dari tanah air yang sekarang lagi hits.

 Thank you Beijing. Sehari yang sungguh menyenangkan.

 

 

 

 

Hits: 5765

Pemerintah kita beberapa waktu terakhir memang lagi giat-giatnya berkampanye tentang kemudahan perijinan berusaha, namun rasanya masih ada saja rasa “kurang percaya” dengan sistem kerja pemerintah. Yang terbayang Pasti surat-suratnya banyak, kantor yang dikunjungi pun tidak sedikit.

Mungkin buat mereka yang tidak punya banyak waktu dan malas mengisi bejibun formulir, menggunakan jasa pihak ketiga adalah solusi. Makanya, nggak heran di Google mudah banget menemukan jasa-jasa pengurusan perusahaan. Dan ternyata, setiap kota juga punya harga pasaran sendiri.

Saya pun juga awalnya berpikir demikian. Bukan kebanyakan uang sih, tapi sepertinya lebih baik diserahkan pada ahlinya deh, kita tinggal duduk manis dan semua selesai. Namun setelah tahap-tahap awal dilalui, kok nanggung amat diurusin orang, wong ngurus sendiri ternyata jauhhh sekali dari bayangan susah sebelumnya.

Biaya pun bisa dihemat hingga 50%. Saya mengurus sendiri di Bogor total hanya menghabiskan Rp6,5 juta dari harga pasaran Rp10-15 juta. Yah, belum termasuk ongkos-ongkos Gojek sih. Tapi tetep murah kann..

Nih, saya bagi pengalaman dan step by step yang mungkin bisa jadi acuan teman-teman yang mau mengurus ijin perusahaan (PT, CV atau personal) atau dokumen legal formal perusahaan lain.

Langkah Pertama: Cari notaris terdekat dan ternyaman.

Konsultansikan semua kebutuhan yang kita perlukan dari bidang usaha perusahaan, bagaimana bisnisnya, siapa pendirinya, lokasi, dll..dll. Perlu diketahui di beberapa provinsi seperti di Jawa Barat, penggunaan rumah tempat tinggal masih dimungkinkan, asal besaran modal yang ditanamkan tidak lebih dari Rp500 juta. Masalah permodalan juga perlu banget didiskusikan dengan notaris. Saya termasuk yang “agak buta” soal ini. Ada istilah-istilah yang saya belum paham. Ngobrol dengan notaris dan sambil belajar via Mbah Google akan sangat membantu.

Pada dasarnya notaris itu tugasnya hanya mencatat. Sebagai pejabat yang disahkan oleh Pemerintah dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM, notaris-lah yang dapat menerbitkan Akta perusahaan sebagai tanda lahirnya perusahaan. Notaris akan meminta beberapa alternatif nama perusahaan kemudian mendaftarkannya. Output terakhir dari notaris adalah Akta Perusahaan dan Dokumen-dokumen pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM. Kalau lancar semuanya memakan waktu tidak lebih dari tiga hari saja.

Langkah Kedua: Urus Surat Domisili Perusahaan.

Mengurus dokumen ini, cukup dengan menyerahkan copy akta ke Kelurahan sesuai domisili tempat usaha. Setelah ditandatangani pejabat kelurahan kita bawa sendiri suratnya ke kecamatan dan beres deh. Ini prosesnya rata-rata nggak sampai dua hari kok. Malah bisa ditunggu, jika pejabatnya ada. Jangan lupa melampirkan surat-surat pendukung, seperti bukti pelunasan PBB. Jangan ngebayangin ribet duluan, saya juga pikir dulu semua penuh birokrasi. Tapi ternyata sekarang sudah bener-bener dipermudah kok. Dan jreng!! tidak ada biaya untuk ini. Oya, masa berlaku Surat Keterangan Domisili adalah 1 tahun.

Langkah Ketiga: Urus NPWP.

Pengurusan NPWP saat ini sudah tidak dapat diwakilkan lagi. Harus diurus sendiri oleh salah satu pendiri yang namanya tercantum pada Akta Pendirian. Caranya? Gampang banget, bawa akta asli dan fotocopy-nya, identitas & NPWP pendiri perusahaan serta bukti setor pajak tahun terakhir ke Kantor Pajak dimana perusahaan berdomisili. Selain itu, ada beberapa dokumen pernyataan dan form yang disediakan di kantor pajaknya. Prosesnya berapa lama?! Nggak lebih dari 5 menit saja! Yah, palingan ngantrinya yang lama. Standarlah ya…

Langkah Keempat: Buka www.oss.go.id

Nah, ini yang saya bilang kemudahan pendirian perusahaan yang benar-benar dimudahkan oleh Pemerintah. Online Single Submission (OSS) kini menjadi media utama pengurusan izin berusaha oleh pelaku usaha dengan karakteristik sebagai berikut: berbentuk badan usaha maupun perorangan; Usaha mikro, kecil, menengah maupun besar; Usaha perorangan/badan usaha baik yang baru maupun yang sudah berdiri sebelum operasionalisasi OSS. Usaha dengan modal yang seluruhnya berasal dari dalam negeri, maupun terdapat komposisi modal asing.

Saya sampai tercengang dan bangga, Indonesia bisa begini juga loh!!!

Kenapa saya bilang kemudahan, karena ini benar-benar memangkas birokrasi, biaya dan keribetan-keribetan perijinan yang dulu sering kita dengar. Perijinan yang harus kita peroleh dari OSS adalah Nomer Induk Berusaha (NIB) dulunya sering disebut TDP (Tanda Daftar Perusahaan) yang per 1 Januari 2019 sudah resmi menjadi NIB.

Ijin-ijin lain semuanya dapat diproses secara online melalui OSS. Dalam kasus saya, saya membutuhkan NIB dan SIUP, yang merupakan dokumen standar pada perusahaan jasa konsultansi seperti Kamadigital.com. Ijin-ijin lain pun tersedia di OSS dan semuanya bisa diproses secara online.

Gimana cara aksesnya? Gampang! Registrasi saja di oss.go.id dengan NIK. Tidak perlu memasukkan data apapun terkait perusahanmu, nggak ada namanya scan dan attach dokumen. Aplikasi berbasis web ini sudah terhubung dengan Kemenkumham yang mengeluarkan SK Perusahaan dan Pajak yang mengetahui NPWP kita. Kerennya lagi, jika ada perubahan terkait usaha kita baik penambahan maupun pengurangan kita bisa lakukan sendiri disini. Oya, OSS juga sudah terhubung dengan BPJS dan berbagai lembaga lain terkait perijinan dan fasilitas pemerintah untuk perusahaan.

Ijin akan keluar secara real time, namun ada juga yang memerlukan beberapa hari untuk verifikasi. Pengalaman saya, NIB selesai real time, namun SIUP menunggu 2-3 hari hingga terverifikasi. Ada yang memerlukan dokumen tambahan, ada pula yang tidak. 

Setelah itu, kelar deh… bener-bener cepat, Total dari pendaftaran ke notaris hingga semua selesai memakan waktu tidak lebih dari 10 hari (itu juga karena saya menunda-nunda ke kantor pajak, karena males, heheheh..)

Tips: Aplikasinya memang dirancang mudah dan disertai manual, tapi banyak istilah yang bagi pemula agak membingungkan. Namun OSS yang dikelola oleh BKPM ini menyediakan Customer Service via phone atau email dengan respon yang baik. Kalau masih bingung juga, bisa datang ke BKPM Pusat di Gatot Subroto khusus yang di Jabodetabek, agar dapat bimbingan yang penuh.

Terakhir, kenapa sih harus repot-repot sendiri? Bagi usaha kecil atau rintisan, saya sih menyarankan banget URUS SENDIRI. Karena onderdil perusahaan sejatinya ada disini. Kita jadi tau dan melek banget, jadi nggak bakal dikibulin orang deh! Nggak ribet kok! Resepnya cuma sabar dan mau belajar!

Disclaimer: bukan tulisan endorsement

 

Hits: 1844

Pernah nggak kepikir, bagaimana perjalanan barang-barang kebutuhan rumah tangga dari pabrikan bisa sampai di rumah kita? Coba cek, ada berapa merek yang ada di rumah. Mulai dari deterjen, pasta gigi, minyak goreng hingga perangkat teknologi.  Dari selesainya produksi hingga sampai di rumah dengan kontrol stok yang baik di toko, pastilah memiliki proses yang rumit. Di belakangnya ada sistem dan manajemen distribusi pendukung yang canggih.  Tentu saja, IT kini menjadi kunci utama manajemen distribusi yang baik.

Proses distribusi di Indonesia (terutama FMCG) juga bisa dibilang sangat kompleks. Sebagai negara kepulauan dengan banyak pelosok, distribusi barang secara proporsional menjadi sebuah tantangan besar. Belum lagi karakter dan pola konsumsi masyarakat kita bisa dibilang unik. Perlu ada diskon, gimmick, dan sejenisnya untuk meningkatkan penjualan. Perusahaan distribusi-lah yang bertugas mengecek ketersediaan barang oleh supplier hingga pengiriman barang ke toko. Agar proses distribusi dapat berjalan efisien.

Nah, ngomong-ngomong soal itu, minggu lalu saya mendapat undangan spesial dari PT Pratesis sebuah perusahaan yang bergerak di pengembangan teknologi di bisnis ritel dan distribusi. Pratesis merupakan bagian dari Gunung Sewu Group yang berdiri sejak 1987. Kalau kalian tau merek-merek seperti Sunpride, Re-juve (minuman sehat yang lagi hits), permen Yupi, Bellfoods hingga asuransi Sequislife, itulah beberapa bagian dari keluarga Gunung Sewu Grup. Tidak kurang perusahaan-perusahaan besar seperti Unilever, Sosro, Khong Guan dan Mondelez sudah memercayakan pengelolaan distribusi produk-produknya ke Pratesis. So, bisa jadi pasta gigi yang ada di toilet rumahmu, sampai kesana juga karena jasa Pratesis loh!

Yuk, kenal lebih dekat dengan Pratesis.

Tiga Solusi yang Bersinergi. 

Pratesis memiliki 2 produk unggulan dan 1 servis sebagai bisnis utama.

Pertama, Scylla merupakan aplikasi yang di dalamnya berisi rangkaian proses bisnis ideal bisnis distribusi, Scylla mampu mendukung proses transaksional dan operasional di tingkat cabang atau distributor – mulai dari manajemen penjualan, persediaan, penagihan, utang-piutang, kas hingga kepada GL (General Ledger). Scylla juga dapat mengonsolidasi data dan informasi kegiatan cabang atau distributor. Dari sini, prinsipal atau kantor pusat akan mendapatkan informasi akurat terkait distribusi, promosi, analisis penjualan, kinerja salesman, persediaan, piutang, dan kas bank cabang atau distributor.

Nah, fungsi-fungsi diatas diturunkan dalam tiga jenis Scylla yaitu; Scylla Enterprise, Scylla Pro dan Scylla Mobile. Masing-masing terintegrasi sesuai dengan fungsinya. Scylla ini juga dapat dengan mudah berintegrasi dengan ERP (enterprise resource planning) yang dipergunakan, sehingga memungkinkan untuk membuat perencanaan yang lebih efisien dari sebelumnya. Bisa dibilang Scylla adalah  software terbaik untuk distribusi FMCG di Indonesia. Jangan lupa, Scylla adalah hasil karya software distribusi karya anak bangsa.

Kedua, ERP –Pronto Xi. Pernah dengar SAP dan Oracle? Dua merek tersebut adalah solusi ERP yang sudah sangat dikenal di dunia bisnis. Namun ada aplikasi Pronto Xi yang berasal Australia dan sudah digunakan di lebih dari 26 negara, yang tidak kalah canggih dibanding dua aplikasi sebelumnya. Pronto ditargetkan untuk perusahaan menengah yang berkembang hingga perusahaan besar.

ERP solution ini mempunyai modul point of sales (POS) yang terintegrasi langsung dengan back-end secara online real time, sehingga setiap transaksi yang terjadi di toko akan langsung tercatat. Pronto bisa mengatur banyak jenis discount item per toko, per wilayah, dengan pengaturan jadwal yang akurat. User juga dapat memastikan koordinasi dan integrasi aktivitas bisnis, serta arus informasi barang dan keuangannya. Kelebihan lain dibandingkan dengan ERP yang modul POS-nya berasal dari developer lain adalah user Pronto sudah tidak perlu memikirkan proses synchronization yang sering mengakibatkan ketidakakuratan data yang masuk ke back-end.

Ketiga, Distribution Management System (DMS) Service Desk. Dengan tagline “National Coverage With Local Culture”, Pratesis berupaya dekat dengan para user dengan memberikan support non stop 24 jam. Yang namanya pelayanan ke konsumen ritel kan memang berjalan terus sepanjang hari. Mungkin kita pernah mengalami mau beli satu produk yang sangat dibutuhkan, tapi stoknya di toko terdekat lagi kosong dan kita harus menunggu tanpa kejelasan waktu kapan barangnya datang. Sebabnya, bisa saja terjadi masalah di sistem yang membuat barang terlambat keluar dari gudang, masalah jumlah stok yang tidak proporsional antar toko dan lain sebagainya. Seharusnya semua hal tersebut dapat terpantau dengan baik melalui aplikasi yang digunakan.

Nah, disini layanan DMS  akan membantu dalam  implementasi, dukungan operasional dan teknikal serta pengembangan dan peningkatan aplikasi agar performa kegiatan distribusi makin baik. DMS dari Pratesis mampu memberikan respon yang cepat dan tepat terhadap suatu keadaan sehingga user dapat segera mengambil keputusan.

***

Saya belajar banyak sekali dari Pratesis, ternyata mi instan yang sering dinikmati di rumah, tidak begitu saja mudahnya kita beli di warung, ada proses yang panjang dan rumit agar bisa dinikmati. Jika tidak ada sistem manajemen distribusi yang baik dan ditunjang aplikasi-aplikasi seperti Scylla dan Pronto, mungkin kalau mau beli sabun cuci piring merek “Mama Mama” itu kita harus langsung ke pabriknya. Heheheh.. Eh, nggak seekstrim itu juga sih ya… 🙂

 

 

Hits: 2124

Bogor memang hampir identik dengan kota pelajar. Mungkin karena disini berdiri Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, ternyata Bogor juga menjadi lokasi favorit beberapa boarding school. Tahun ini saja, disini berdiri lagi sebuah boarding school yang terletak di Desa Tenjolaya sekitar 10 km dari Kampus IPB Dramaga. Berada di atas lahan kurang lebih 60 Ha, Aldepos lebih dulu dikenal sebagai restoran, villa dan resort. Di kawasan ini, sudah sejak lama berdiri megah Masjid Abdul Fatah yang menjadi milestone pertama lahirnya Aldepos Boarding School. Masjid indah ini akan menjadi salah satu fasilitas belajar mengajar para santri Aldepos nantinya.

Beberapa minggu lalu, saya sempat berkunjung kesini. Lokasinya yang berada di kaki Gunung Salak membuat Aldepos cocok banget sebagai tempat peristirahatan. Tidak salah jika disini disediakan sekitar 7 villa tematik yang unik dan nyaman. Kontur tanah yang berbukit-bukit menjadikan pemandangannya pun menakjubkan. Ditambah suasana yang tenang, sejuk, tidak hiruk pikuk dan paling penting dekat dengan Ibukota menjadikan Aldepos juga pas menjadi lokasi sekolah berasrama.

Nah, agar lebih detail berikut alasan kenapa Aldepos wajib menjadi top list pilihan untuk melanjutkan sekolah menengah SMP maupun SMA.

1. Rileks

Rileks adalah slogan Aldepos yang merupakan akronim dari Ramah, Ilmiah, Luwes, Edukatif, Kondusif, Spiritual. Rileks merupakan cerminan pendidikan serta keseharian kehidupan santri di Aldepos. Aldepos jauh dari suasana tegang seperti asrama belajar pada umumnya. Letaknya yang berada di bawah kaki gunung dan di tengah pedesaan membuat Aldepos menjadi sangat kondusif untuk belajar dengan nyaman. Kegiatan belajar mengajar pun menyatu dengan alam. 

2. Kurikulum Plus

Salah satu pembina dan “bidan” lahirnya Aldepos adalah Prof. Darwis Hude, seorang tokoh pendidikan yang telah banyak melahirkan sekolah-sekolah berbasis Islam. Prof Darwis memiliki pengetahuan yang luas tentang pengembangan kurikulum nasional yang dipadukan dengan kurikulum kepesentrenan plus. Pada dasarnya, kurikulum Aldepos mengacu pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan, yang dipadukan (integrated) dengan Kurikulum Kementerian Agama/Pesantren. 

Plus dalam arti bukan saja belajar sesuai kurikulum namun diberi berbagai keterampilan untuk siap menjadi entepreneur. Para pendiri Aldepos bercita-cita, lulusan Aldepos tidak hanya menguasai ilmu agama dan berdakwah, tetapi juga mampu  mandiri dengan mengembangkan bisnis sendiri

3. Biaya Terjangkau

Bukan rahasia lagi, kalau boarding school ternama mematok biaya pendidikan yang tidak tanggung-tanggung. Memang segmen yang dituju sebagian besar sekolah-sekolah ini adalah segmen ekonomi menengah atas. Tidak heran jika ada yang biayanya mencapai diatas 50 juta pertahun, bahkan tidak sedikit yang mencapai ratusan juta. Dengan kualitas yang bersaing, tahun ini Aldepos memberikan potongan uang pangkal sebesar 50%. Secara total yang harus dikeluarkan orang tua untuk masuk ke Aldepos kurang lebih 20 juta rupiah saja.

4. Fasilitas Lengkap

Nah, ini penting banget! Sebagai sebuah sekolah berasrama, sudah seharusnya dalam semua fasilitas ada dalam satu areal. Keunggulan utama Aldepos adalah terletak di tengah-tengah tanah perkebunan dan peternakan yang bisa langsung menjadi tempat praktek.

Didukung masjid yang megah dan luas, proses mempelajari Islam juga akan lebih baik. Di Aldepos selain infrastruktur yang memadai, fasilitas laboratorium juga lengkap ditambah jaringan broadband, perpustakaan hingga fasilitas olahraga yang canggih. Intinya semua proses pendukung belajar mengajar, tersedia disini. Super deh pokoknya!

5. Karakter Lulusan Terbaik

Aldepos mengedepankan proses pembelajaran dengan penguatan pada kompetensi pembelajaran abad 21 dalam aspek knowledge, life skills, literasi dan teknologi yang diramu oleh para ahli secara akurat. Para santri difasilitasi oleh tenaga yang berpengalaman, ahli, amanah, berkepribadian, komunikatif, kreatif, dan inovatif. Mau tau, karakter lulusan Aldepos ? Check this out! 

Karakter Lulusan SMP Aldepos

  1. Lulus Akademik (Ujian Nasional, Ujian Asrama dan Ujian Praktek) di atas standar.
  2. Lulus Ujian Bahasa Arab dan Inggris (Basic)
  3. Lulus Kriteria Akhlakul Karimah
  4. Memiliki hafalan Alquran minimal 3 juz (difasilitasi bagi mereka yang berniat menghafal 30 juz)
  5. Mampu membaca Alquran sesuai kaidah tajwid dasar
  6. Memiliki dasar-dasar kewirausahaan untuk kemandirian hidup
  7. Memiliki kemampuan memimpin do’a dan dasar-dasar khitabah (pidato, ceramah/kultum)

Karakter Lulusan SMA Aldepos

  1. Lulus Akademik (Ujian Nasional, Ujian Asrama, dan Ujian Praktek) di atas standar (bagi yang ingin melanjutkan pada jenjang berikutnya, difasilitasi upaya memperoleh Perguruan Tinggi yang sesuai).
  2. Lulus Ujian Bahasa Arab dan Inggris (Intermediate)
  3. Lulus Kriteria Akhlakul Karimah.
  4. Memiliki hafalan Alquran minimal 2 juz selain yang dihafalkan pada jenjang SMP (difasilitasi bagi mereka yang menghafal 30 juz)
  5. Mampu membaca Alquran sesuai kaidah tajwid mahir
  6. Memiliki dasar-dasar kewirausahaan untuk kemandirian hidup
  7. Memiliki kemampuan dasar imam,khitabah (pidato, ceramah/kultum) dan khutbah Jum’at
  8. Mampu mengikuti pendidikan jenjang perguruan tinggi (universitas)

Jadi, nggak usah ragu lagi buat daftar di Aldepos ya.. Info lebih lengkap bisa buka webnya: http://www.safboardingschool.sch.id

Hits: 4855

Tahukah kamu bahwa kata “Kendari” berasal dari Kandai yang berarti dayung? Atau kota Manado, bermula dari ungkapan “tempat yang jauh”? Tahukah kamu bahwa Buton berasal dari nama benteng yang saat ini diklaim sebagai benteng terbesar di dunia?

****

Sempat menghabiskan masa kecil di Pulau Sulawesi, kadang-kadang memang membuat saya bertanya-tanya apa sih arti nama-nama kota di pulau ini. Berbeda dengan nama kota di Pulau Sumatera yang kebanyakan berasal dari Bahasa Melayu sebagai bahasa dasar orang Indonesia, nama kota di Pulau Sulawesi, cenderung tanpa clue. Bandingkan juga dengan nama-nama kota di Jawa Barat. Disini awalan “Ci” untuk nama daerah sudah sangat umum. Ci yang berarti air biasanya dirangkai dengan kata lain yang menjadi nama daerah tersebut. Sangat mudah ditebak, mengingat memang sebagian besar daerah Jawa Barat dilewati aliran sungai.

Setelah puluhan tahun berlalu, akhirnya saya jadi tahu arti nama kota-kota utama di Sulawesi. Saya bersama teman-teman Kamadigital.com dipercaya PT Balai Pustaka (Persero) untuk menulis ulang sebuah buku bertajuk Sejarah Toponim Kota Pantai di Sulawesi yang awalnya diterbitkan oleh Kementerina Pendidikan dan Kebudayaan.

Ternyata, Sulawesi yang memiliki cukup banyak kota pantai memiliki kisah uniknya masing-masing. Contohnya Kota Makassar berasal dari kata “mangkasarak” mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (jujur). Nama ini kemudian menjadi nilai luhur yang dipegang teguh masyarakat kotanya hingga saat ini. Selain kisah tentang Makassar, ada kota yang namanya ternyata berasal dari kesalahpahaman orang lokal yang mencoba menjawab pertanyaan orang asing. Ada juga yang namanya terinspirasi dari nama tanaman bahkan mitologi penduduk setempat.

Nah, dalam buku yang kemudian kami ganti judulnya menjadi “Asal-usul Nama Kota Pantai di Sulawesi” ini, kita dapat mengetahui kisah asal-usul dari 17 nama kota pantai di Pulau Sulawesi. Tujuh belas kota tersebut merupakan perwakilan dari enam provinsi yang ada di Sulawesi. Baik kota yang sudah memiliki nama besar seperti Makassar, Manado, Mamuju, dan Kendari, hingga kota lain seperti, Kema, Bitung, Bantaeng, Majene, Buton dan masih banyak lagi.

Sejarah penamaan nama-nama kota di Sulawesi ini berpengaruh terhadap peadabannya hingga saat ini. Pulau Sulawesi sejak dulu memang dikenal memiliki sejarah paling kuat dari sisi maritim. Dunia maritim inilah yang menggerakkan berbagai sisi perekonomian penduduk pulau ini, berdampingan dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal.

***

Buku ini sengaja dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, dengan komposisi 70% tulisan dan 30% ilustrasi yang lucu dan menarik. Sasaran buku ini adalah pembaca anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang mungkin menganggap sejarah adalah subyek yang membosankan dan tidak menarik. Harapannya, agar para generasi penerus bangsa tersebut mau melanjutkan semangat literasi dan pengetahuan sejarah bangsa ini tidak mati. Karena sesungguhnya sejarah adalah pondasi guna membangun pilar sejarah baru.

Sebelum kita membuat sejarah baru, ada baiknya kita mengerti sejarah tempo dulu yang mampu membuat bangsa kita menjadi seperti hari ini. agar kita tidak melupakan norma-norma yang diajarkan oleh nenek moyang.

Selamat membaca.

 

Hits: 1599

Apa ekspektasimu saat berlibur ke pulau kecil yang jauh dari pusat peradaban dan hiruk pikuk kota?

Memang, sudah banyak pulau-pulau terpencil yang menjadi daerah wisata dan fasilitasnya dapat dikatakan layak, mulai dari hotel, transportasi dan akomodasi. Namun, khusus untuk hotel Natuna saya sungguh tidak banyak berekpektasi. Pulau terdepan di utara di Indonesia ini, memang belum lama berbenah dalam bidang pariwisata. Menurut saya, bisa tidur nyaman tanpa diganggu nyamuk saja, sudah merupakan prestasi bagi daerah dulu yang lebih dulu dikenal sebagai pangkalan militer NKRI. 

Ternyata saya salah…

Awal Desember lalu saya berkunjung ke Natuna. Beberapa hari sebelumnya saya sudah memesan hotel melalui aplikasi traveloka. Tidak banyak pilihannya seingat saya. Saya memilih hotel De Best, yang keliatan dari foto-fotonya cukup nyaman dan lokasinya strategis. Harganya pun sangat terjangkau. Semalam sebelum kedatangan, saya dihubungi seseorang dari hotel yang mengatakan akan menjemput kami di bandara. Padahal saya nggak mesen penjemputan loh! Dan ternyata itu fasilitas gratis untuk tamu hotel. Wow..

Tiba di Natuna, ternyata yang menjemput kami langsung adalah Mas Edy, pemiliki hotel yang sering juga dipanggil Koko Edy, pemuda asli Natuna ganteng (yang konon mantan model, hahaha). Dia menyapa dengan ramah dan melayani seluruh pertanyaan kami selama dalam perjalanan menuju hotel. Dari mulai rumah makan, tempat hiburan sampai akomodasi untuk jalan-jalan. Semua dijawab komplit oleh beliau. Yang paling menyenangkan, selama 4 hari disana, Koko Edy setia menjadi tour guide kami! Yeay!

Sampai di hotel, kesan pertama; Oh Not bad at all kok! Meskipun bangunan asalnya ruko, ternyata kamarnya luas, bersih, amenities yang cukup lengkap, ada AC, TV, air panas untuk mandi, air dalam kemasan yang cukup dan tidak berisik walaupun dekat dari jalan raya. Ada meja tulis juga, cocok banget buat saya yang kemana-mana nenteng laptop. Hehehe

Ekspektasi saya sangat tidak berlebihan. Teringat sekitar dua tahun sebelumnya, saat kunjungan ke Pulau Selayar, hotelnya sempit, sumpek dan bukan tempat yang nyaman buat beristirahat. Mengingat karakteristik kedua pulau yang relatif sama, saya pun tidak banyak berharap.

Dengan kamar yang luas ini, kita nggak perlu khawatir jika barang bawaan berceceran dimana-mana. Bisa koprol! Hehehe.. Yang paling menyenangkan adalah, hampir setiap kamar dilengkapi dengan jendela ke luar. Ini penting banget sih buat saya, soalnya saya kurang suka kamar yang tidak memiliki cahaya matahari langsung.

Di ruang tengah, ada lobi yang lumayan lah buat ngobrol malam-malam dengan sesama pelancong. Sayangnya sofanya kurang banyak sih, padahal space-nya masih cukup luas.

Di lantai 1, ada ruangan luas yang dulunya ditujukan untuk restoran. Namun sayangnya, ketika kesana restorannya sedang tidak beroperasi. Namun tempat ini tetap nyaman untuk ngobrol dan minum-minum kopi sambil menikmati sore di Natuna.

Karena terhitung hotel budget, De Best tidak menyediakan sarapan, namun di sekeliling hotel banyak jualan makanan kok. Pegawai hotel juga akan dengan senang hati membelikan jika kita minta. Bukan cuma affordable, harga per malam yang rata-rata Rp300.000, malah bisa dibilang less price alias murah. Lumayan lah, buat subsidi silang dengan biaya tiket pesawat yang sudah mahal kesini.

De Best rekomen banget deh buat yang ada rencana berkunjung ke Natuna. Kalian bisa dengan muda booking via Traveloka.

Kalau ke Natuna, ajak-ajak saya ya… Saya mau banget lagi…

 

 

Hits: 1494

Mencari satu kalimat awal untuk membuka tulisan tentang Natuna ternyata bukan pekerjaan mudah. Sama tidak mudahnya dengan pura-pura bahagia saat hati sesungguhnya sedang tidak bahagia. Namun siapa sangka, pulau terdepan di utara Indonesia ini justru membolak-balikkan semua hanya dengan satu pandangan ke biru lautnya.

Sayangnya, semalam hujan, hari ini pun mendung. Pantai Tanjung memang masih biru, namun langitnya buram abu-abu. Saya duduk di sebuah pondok kecil disini, di pantai yang ditempuh kurang dari 15 menit dari pusat Ranai, ibu kota Natuna. Saya tidak yakin bisa mendapatkan atmosfer foto terbaik hari ini dengan cuaca mendung di awal Desember. Gerimis pun mulai turun. Terpaksa niat berburu foto diurungkan. Tapi siapa kira bahwa mendung memang tak selamanya hujan? Belum sempat berkemas, tiba-tiba matahari hadir seolah jadi pertanda itulah cara Tuhan mengabulkan doa. Seketika, dengan waktuNya sendiri, disaat mungkin yang terpikir adalah ketiadaan harapan.

Pantai landai berpasir putih ini sungguh masih alami. Belum ada deretan hotel apalagi villa mewah. Airnya berwarna biru tosca, jernih nyaris tanpa sampah. Perahu nelayan terombang ambing diatasnya, mengikuti irama gelombang diiringi lantunan deru ombak yang menenangkan. Seujung pandangan mata Pulau Senua nampak dari kejauhan, jaraknya mungkin kurang dari tiga mil saja. Katanya Senua adalah pulau wajib dikunjungi jika tiba di Natuna. Konon pulau ini merupakan jelmaan dari seorang perempuan yang tengah hamil. Bentuknya memang menunjukkan demikian. Sayang, hari ini cuaca kurang mendukung untuk bersampan kesana.

Langit abu-abu tadi mendadak cerak biru muda dengan arakan awan putih yang jadi pelengkap utama Tidak ada kosa kata lain yang menyusup ke sendi-sendi raga selain kedamaian.

Saya kemudian memesan tabel mando, katanya ini “pizza” khas Natuna. Sepiring makanan adonan tepung terigu, sagu bercampur dengan irisan tongkol kemudian datang ke meja saya. Ya, bentuknya bulat seperti pizza, diameternya mungkin sekitar delapan senti, persis seukuran piring makan. Makanan langka, kata penduduk disini. Rasanya gurih, pas dengan saus sambal kental yang dihidang bersamanya. Sebuah kelapa mudah hijau bertengger manis disampingnya. Mungkin ini hari yang sederhana bagi orang Natuna, tapi sungguh mewah bagi orang metropolitan yang makin muak dengan santapan polusi.

Tak jauh dari pantai Tanjung, berjejer batu-besar yang melindungi hampir seluruh pantai di Natuna. Eksotisme Natuna sejatinya ada pada batu-batu besar yang jika diperhatikan bentuknya menyerupai berbagai mahluk hidup. Konon, batu-batu ini adalah tumpahan dari perbukitan Natuna. Keindahan pegunungan yang berseberangan dengan pantai seolah beradu padu dan membuat saya yakin mengatakan bahwa pulau ini sungguh cantik.

Saya tidak pernah berpikir untuk bisa sampai disini. Terlalu jauh itu alasan utamanya. Mahal itu alasan keduanya. Namun terkadang jarak dan rupiah jadi bukan kendala, manakala yang kamu cari ada disana. Keindahan, kedamaian, dan kesejukan. Ya disana, di Natuna.

Tunggu tulisan saya tentang bagaiman ke Natuna dan akomodasinya seperti apa di posting berikutnya!

 

 

 

Hits: 1644